Baker Terkena Pajak Profesi? Ketahui Pajak Atas Penghasilannya

Baker Terkena Pajak Profesi? Ketahui Pajak Atas Penghasilannya

Brevet Pajak – Menjadi baker atau baker-pastry chef merupakan profesi yang memadukan seni, pengetahuan, dan kecintaan terhadap dunia kuliner. Selain menciptakan berbagai jenis roti dan kue yang lezat, seorang pembuat roti juga harus memahami kewajiban perpajakan yang melekat pada profesinya. Artikel ini akan menjelaskan bagaimana seorang pembuat roti dikenakan pajak profesional dan jenis pajak apa saja yang harus dibayar atas penghasilannya.

Memahami Perpajakan Profesi

Pajak profesional adalah pajak yang dikenakan kepada orang pribadi atau kelompok yang menjalankan profesi tertentu dan memperoleh penghasilan dari kegiatan tersebut. Brevet pajak akan memberikan kita pengetahuan khusus terkait dengan pajak profesi yang ada. Profesi ini bisa mencakup berbagai bidang, antara lain kedokteran, hukum, seni dan tentunya baking. Pajak ini merupakan bagian dari Pajak Penghasilan (PPh) yang telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 terkait dengan  Pajak Penghasilan.

Kewajiban Pajak bagi Pembuat Roti

Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21

Pajak penghasilan pada pasal 21 akan dikenakan atas penghasilan yang akan diterima atau diperoleh wajib pajak dalam negeri sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan apa pun. Seorang pembuat roti yang bekerja sebagai karyawan di toko roti atau bisnis pembuatan kue akan dikenakan pajak penghasilan berdasarkan Bagian 21, yang dipotong oleh pemberi kerja.

Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25/29

Bagi pembuat roti yang mempunyai usaha sendiri atau bekerja sebagai wiraswasta, akan berlaku Pasal 25 atau Pasal 29 Pajak Penghasilan. PPh Pasal 25 merupakan angsuran bulanan yang harus dibayar berdasarkan perkiraan penghasilan tahunan, sedangkan PPh Pasal 29 merupakan pajak tambahan yang dibayarkan jika angsuran PPh Pasal 25 kurang dari jumlah yang harus dibayar. dibayar dalam satu tahun.

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Apabila seorang tukang roti menjalankan usaha yang omzetnya melebihi Batasan Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang ditetapkan pemerintah, maka ia wajib memungut PPN sebesar 11% dari setiap penjualannya. PPN ini kemudian disetor ke kas negara.

Pajak Lokal

Selain pajak pusat, seorang pembuat roti juga harus memperhatikan pajak daerah, seperti pajak reklame jika memasang iklan di luar kantor pusatnya, atau pajak hiburan jika usahanya menawarkan fasilitas hiburan tertentu.

Perhitungan Pajak Penghasilan untuk Tukang Roti

Untuk menghitung pajak penghasilan, pembuat roti harus menentukan besarnya penghasilan kena pajak (PKP). Berikut langkah-langkah umum penghitungan PPh:

Hitung pendapatan kotor

Pendapatan kotor adalah total pendapatan sebelum dikurangi biaya. Bagi seorang pembuat roti, ini termasuk menjual roti, kue dan produk lainnya.

Baca Juga: Hak Gadai Pajak di Indonesia: Mekanisme, Proses dan Penerapannya

Turunkan biayanya

Biaya-biaya yang dapat dikurangi antara lain biaya bahan baku, gaji karyawan, sewa, utilitas dan biaya operasional lainnya. Ketika biaya-biaya ini dikurangkan dari pendapatan kotor, hasilnya adalah pendapatan bersih.

Pengurangan Pajak (PTKP)

Penghasilan Bebas Pajak (PTKP) adalah jumlah penghasilan yang tidak dipungut pajak. Besaran PTKP tergantung pada status wajib pajak dan jumlah tanggungan.

Perhitungan pajak yang terutang

Setelah memperoleh PKP, pajak penghasilan dihitung berdasarkan tarif progresif yang berlaku, yaitu:

  • 5% untuk PKP s/d Rp 50 juta.
  • 15% untuk PKP di atas Rp50 juta s/d Rp250 juta.
  • 25% untuk PKP di atas Rp 250 juta s/d Rp 500 juta.
  • 30% untuk PKP di atas Rp500 juta s/d Rp5 miliar.
  • 35% untuk PKP di atas Rp 5 miliar.

Berikut adalah contoh kasus yang sering terjadi:

Misalnya, seorang tukang roti mempunyai pendapatan kotor Rp300 juta per tahun dan biaya operasional Rp200 juta. Jadi, laba bersihnya adalah Rp 100 juta. Setelah dikurangi PTKP (misalnya Rp 54 juta untuk wajib pajak dengan satu tanggungan), PKPnya adalah Rp 46 juta. Dengan demikian, pajak penghasilan yang terutang sebesar 5% dari Rp 46 juta atau Rp 2,3 juta.

Menjadi seorang baker tidak hanya sekedar menciptakan roti dan kue yang lezat, namun juga memahami kewajiban perpajakan yang berlaku. Dengan mengetahui pajak profesional yang harus dibayar dan cara menghitungnya, seorang pembuat roti dapat menjalankan usahanya dengan lebih tenang dan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Pemahaman perpajakan yang baik juga berkontribusi terhadap perencanaan keuangan yang lebih baik dan menjamin keberlangsungan usaha.

Untuk menjadi seorang ahli pajak, Anda harus memiliki pengetahuan mendalam terkait pajak. Dan salah satunya adalah dengan mengikuti brevet pajak. Tax Academy adalah tempat yang tepat untuk Anda memulainya. Karena di tempat ini merupakan langkah tangga pertama kesuksesan Anda sebagai seorang Expert di bidang industri perpajakan.

Tax Academy menawarkan metode pembelajaran yang mudah dan memiliki jaringan profesional. Beberapa metode tersebut diantaranya adalah Video Learning, Interactive Learning, dan juga Hybrid Learning. Akademi perpajakan yang satu ini dikelola oleh profesional dari WiN Partners yang mengelola berbagai bidang pajak dengan kantornya di Surakarta, Medan dan juga Batam. Hubungi kami sekarang juga untuk Anda yang ingin mengikuti brevet pajak dan menjadi Expert di bidang pajak.

CTAS/SIAP: DJP Terus Menguji Sistem Baru untuk Menunjang Perpajakan yang Semakin Canggih

CTAS/SIAP: DJP Terus Menguji Sistem Baru untuk Menunjang Perpajakan yang Semakin Canggih

Brevet pajak merupakan kelas perpajakan yang bisa membantu orang-orang yang ingin bekerja di dunia perpajakan agar menguasai wawasan tentang kebijakan perundang-undangan perpajakan. Bahkan brevet pajak nantinya akan memberikan sertifikat perpajakan yang terakreditasi pada setiap orang yang mengikuti kelas perpajakan ini. Tentu saja untuk orang-orang yang ingin menguasai ilmu perpajakan, tidak kalah penting untuk mengetahui perkembangan sistem pajak yang ada pada saat ini. Karena berada dalam era digitalisasi yang semakin berkembang pesat, pastinya sistem perpajakan yang ada di Indonesia juga memasuki era yang semakin baru, yakni dengan rencana penggantian SIDJP.

SIDJP atau singkatan dari sistem informasi Direktorat Jenderal Pajak akan menjadi sistem inti administrasi perpajakan atau yang dapat disebut dengan SIAP. Sistem inti administrasi perpajakan ini juga dikenal dengan CTAS atau core tax administration system. Penting untuk diketahui bahwa sistem ini baru mulai dijadwalkan untuk diimplementasikan mulai bulan Juli tahun 2024 ini. Dwi Astuti selaku Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu), memberikan Penjelasan bahwa pada saat ini sistem perpajakan yang baru Masih pada tahap pengujian.

Dwi juga memberikan pernyataan bahwa Direktorat Jenderal Pajak sedang melakukan persiapan untuk implementasi core tax melalui berbagai pengujian, termasuk pada aspek performa, fungsionalitas, dan keamanannya. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya supaya sistem bisa diimplementasikan dengan lancar untuk menunjang proses habituasi untuk para wajib pajak. Untuk mendorong pembangunan sistem pajak yang canggih tersebut, ternyata Direktorat Jenderal Pajak sudah merealisasikan anggaran sejumlah Rp34,34 miliar sampai akhir tahun 2023 lalu. Pasalnya, realisasi ini setara dengan 73,57 persen dari Pagu anggaran yang telah ditetapkan yaitu sejumlah Rp46,68 miliar.

Pengujian yang sudah dilaksanakan pada tahun 2023 akan dilanjutkan kembali di tahun 2024 ini, agar memberikan kepastian adanya kesiapan untuk sistem sebelum diimplementasikan secara penuh. Sri Mulyani Indrawati selaku Menteri Keuangan telah menggelar pertemuan dengan Pablo Saavedra selaku Vice President for Equitable Growth, Finance, and Institutions World Bank. Pertemuan tersebut membahas tentang reformasi perpajakan yang ada di Indonesia dan dukungan yang sudah diberikan oleh bank dunia selama ini. Dalam forum diskusi ini, Sri Mulyani memberikan penyampaian bahwa reformasi perpajakan yang ada di Indonesia berjalan dengan lancar, meliputi begitu banyak usaha untuk menunjang kepatuhan perpajakan seperti halnya penerapan e-tax invoice dan e-filing.

Baca Juga: Peningkatan Pendapatan Karena Kenaikan Tarif PPN 2025 Menjadi 12%, Apakah Efektif?

Sri Mulyani menegaskan bahwa reformasi perpajakan ini sangat penting, karena Tujuannya adalah untuk memberikan peningkatan pada efisiensi dan transparansi pada bidang administrasi perpajakan di Indonesia. Sri Mulyani menyatakan dalam unggahannya di media sosial, bahwa perjalanan reformasi pajak yang ada di Indonesia sedang berlangsung dengan baik dan memperoleh dukungan penuh dari banyak pihak, termasuk di dalamnya adalah bank dunia atau World Bank. Terdapat harapan bahwa implementasi core tax ini bisa membawa perubahan yang signifikan pada sistem perpajakan Indonesia.

Dengan adanya sistem yang semakin canggih dan terintegrasi, dapat dipastikan bahwa proses administrasi pajak dapat berjalan dengan lebih akuntabel, efisien, dan transparan. Di sisi lain, sistem baru tersebut juga diharapkan bisa mendorong kepatuhan wajib pajak dan meminimalkan risiko kecurangan dalam pelaporan perpajakan. Sementara itu, CTAS dalam jangka panjang juga dinantikan bisa menyumbang dampak positif untuk perekonomian Indonesia dengan mendorong penerimaan pajak semakin positif, sehingga mendukung pembangunan nasional.

Untuk menjadi seorang ahli pajak, Anda harus memiliki pengetahuan mendalam terkait pajak. Dan salah satunya adalah dengan mengikuti brevet pajak. Tax Academy adalah tempat yang tepat untuk Anda memulainya. Karena di tempat ini merupakan langkah tangga pertama kesuksesan Anda sebagai seorang Expert di bidang industri perpajakan.

Tax Academy menawarkan metode pembelajaran yang mudah dan memiliki jaringan profesional. Beberapa metode tersebut diantaranya adalah Video Learning, Interactive Learning, dan juga Hybrid Learning. Akademi perpajakan yang satu ini dikelola oleh profesional dari WiN Partners yang mengelola berbagai bidang pajak dengan kantornya di Surakarta, Medan dan juga Batam. Hubungi kami sekarang juga untuk Anda yang ingin mengikuti brevet pajak dan menjadi Expert di bidang pajak.

Hak Gadai Pajak di Indonesia: Mekanisme, Proses dan Penerapannya

Hak Gadai Pajak di Indonesia: Mekanisme, Proses dan Penerapannya

Kursus Pajak – Hak gadai pajak merupakan salah satu alat yang digunakan oleh fiskus Indonesia untuk menjamin kepatuhan wajib pajak terhadap kewajiban perpajakannya. Melalui hak gadai pajak, otoritas pajak mempunyai kewenangan untuk menahan atau menyita harta milik wajib pajak yang menunggak pajak. Kali ini kita  akan membahas tentang mekanisme, proses dan pelaksanaan hak gadai pajak di Indonesia. Oleh karena itu kita akan mengetahui bagaimana pentingnya mengikuti kursus pajak untuk mengetahui bagaimana perencanaan serta peraturan pajak yang berlaku dan berjalan di Indonesia.

Memahami Hak Gadai Pajak

Hak gadai pajak merupakan hak yang dimiliki oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) untuk menahan atau menyita harta milik Wajib Pajak yang belum melunasi utang pajaknya. Harta yang dapat digadaikan antara lain barang bergerak dan barang tidak bergerak, yang kemudian dapat dijual melalui lelang untuk melunasi utang pajak.

Dasar hukum

Dasar hukum yang mengatur hak gadai pajak di Indonesia adalah Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000 Tentang Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa (UU PPSP). Undang-undang ini memberikan dasar hukum bagi DJP untuk memungut pajak secara paksa, termasuk penyitaan dan lelang harta benda Wajib Pajak.

Mekanisme dan Proses Hak Gadai Pajak

Pemberitahuan dan peringatan

Proses gadai pajak diawali dengan pemberitahuan resmi dari DJP kepada wajib pajak mengenai tunggakan pajak. Apabila wajib pajak tidak menanggapi pemberitahuan tersebut, maka DJP akan mengirimkan surat peringatan.

Surat yang dipaksakan

Apabila dalam jangka waktu yang ditentukan Wajib Pajak masih belum melunasi utang pajaknya, DJP akan menerbitkan surat paksa. Surat ini berfungsi sebagai perintah kepada wajib pajak untuk segera membayar utang pajaknya dalam waktu 21 hari.

Penyitaan aset

Apabila setelah menerima surat paksa, Wajib Pajak masih belum melunasi utang pajaknya, DJP dapat menyita harta milik Wajib Pajak. Penyitaan ini meliputi harta bergerak seperti kendaraan dan real estate seperti tanah dan bangunan.

Lelang aset

Barang sitaan akan dijual melalui pelelangan umum. Hasil lelang akan digunakan untuk melunasi utang pajak. Apabila hasil lelang melebihi jumlah yang terutang, maka kelebihannya dikembalikan kepada Wajib Pajak.

Implikasi Hak Gadai Pajak

Hak gadai pajak mempunyai dampak yang signifikan terhadap wajib pajak dan sistem perpajakan Indonesia. Berikut beberapa implikasinya:

Peningkatan kepatuhan pajak

Adanya hak gadai pajak seharusnya dapat meningkatkan kepatuhan wajib pajak. Ancaman penyitaan dan lelang aset memberikan insentif kepada wajib pajak untuk membayar pajak tepat waktu.

Efektivitas pengumpulan pajak

Hak gadai pajak merupakan alat efektif yang memungkinkan DJP memulihkan pajak yang belum dibayar. Proses ini memastikan bahwa negara terus menerima pendapatan pajak yang diperlukan untuk mendanai berbagai program dan layanan publik.

Baca Juga: Ketahui Langkah dan Kewajiban Pemeriksaan Pajak untuk Tujuan Lain

Dampak ekonomi bagi wajib pajak

Bagi pembayar pajak, penyitaan dan lelang aset dapat menimbulkan konsekuensi ekonomi yang serius. Hilangnya harta berharga dapat mempengaruhi kelangsungan usaha atau keadaan keuangan pribadi wajib pajak.

Transparansi dan akuntabilitas

Proses pelaksanaan hak gadai pajak harus dilakukan secara transparan dan akuntabel. DJP harus memastikan setiap tindakan yang diambil sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk menjaga kepercayaan masyarakat dan mencegah penyalahgunaan kekuasaan.

Tantangan dan Solusi

Penerapan hak gadai pajak tidak lepas dari berbagai tantangan, seperti resistensi wajib pajak dan kesulitan dalam penilaian aset. Untuk mengatasi tantangan ini, beberapa langkah dapat dilakukan:

Sosialisasi dan pendidikan

DJP harus terus meningkatkan kesadaran dan mengedukasi wajib pajak akan pentingnya membayar pajak dan akibat dari tunggakan pajak, termasuk penerapan hak gadai pajak.

Peningkatan kapasitas penagihan

Peningkatan kapasitas pemungutan pajak DJP melalui pelatihan dan pengembangan sistem penagihan yang lebih efisien dapat membantu mengefektifkan proses pemungutan pajak.

Kerjasama dengan institusi lain

DJP dapat bekerja sama dengan lembaga lain seperti bank dan lembaga penilai untuk memastikan penilaian aset yang tepat dan proses lelang yang transparan.

Hak gadai pajak merupakan instrumen penting dalam sistem perpajakan Indonesia yang bertujuan untuk menjamin kepatuhan wajib pajak terhadap kewajiban perpajakannya. Melalui mekanisme dan proses yang terstruktur, hak gadai pajak memungkinkan DJP melakukan pemungutan pajak secara efisien.

Untuk menjadi seorang ahli pajak, Anda harus memiliki pengetahuan mendalam terkait pajak. Dan salah satunya adalah dengan mengikuti kursus pajak. Tax Academy adalah tempat yang tepat untuk Anda memulainya. Karena di tempat ini merupakan langkah tangga pertama kesuksesan Anda sebagai seorang Expert di bidang industri perpajakan.

Tax Academy menawarkan metode pembelajaran yang mudah dan memiliki jaringan profesional. Beberapa metode tersebut diantaranya adalah Video Learning, Interactive Learning, dan juga Hybrid Learning. Akademi perpajakan yang satu ini dikelola oleh profesional dari WiN Partners yang mengelola berbagai bidang pajak dengan kantornya di Surakarta, Medan dan juga Batam. Hubungi kami sekarang juga untuk Anda yang ingin mengikuti kursus pajak dan menjadi Expert di bidang pajak.

Peningkatan Pendapatan Karena Kenaikan Tarif PPN 2025 Menjadi 12%, Apakah Efektif?

Peningkatan Pendapatan Karena Kenaikan Tarif PPN 2025 Menjadi 12%, Apakah Efektif?

Pelatihan pajak merupakan usaha yang patut dilakukan oleh orang-orang yang ingin mempunyai karir di bidang pajak. Karena pelatihan pajak tersebut dapat membantu untuk memperoleh wawasan dan pengetahuan seputar peraturan perundang-undangan perpajakan. Tentu saja tidak kalah penting untuk mengetahui berbagai perkembangan kebijakan pajak yang ada pada saat ini, seperti salah satunya adalah rencana kenaikan Pajak Pertambahan Nilai sebesar persen di tahun 2025 nanti. Apakah kenaikan PPN ini bisa meningkatkan pendapatan negara? Ulasan berikut ini akan membahas tentang kenaikan PPN sebesar 12% dan dampaknya bagi pendapatan negara.

Kebijakan kenaikan tarif PPN atau Pajak Pertambahan Nilai pada saat ini telah menjadi perbincangan utama pemerintah dan media akhir-akhir ini. Akan kembali menaikkan tarif Pajak Pertambahan Nilai Pada awal tahun 2025 nantinya menjadi 12% seperti halnya amanat yang sudah tercantum pada UU No. 7 Tahun 2021 mengenai UU HPP atau Undang-undang harmonisasi peraturan perpajakan yang telah disahkan oleh DPR RI. Pajak pertambahan nilai adalah instrumen yang dipergunakan oleh pemerintah untuk melakukan pengendalian inflasi dan sekaligus penggerak perekonomian yang pastinya mempunyai peran dan dampak besar untuk pemerintah atau juga masyarakat, sebab bisa menyumbang kontribusi besar untuk pendapatan negara.

Dampak Peningkatan PPN 12%

Lantas, apakah hal tersebut akan memberikan peningkatan pada pendapatan negara secara keseluruhan? Penting untuk diketahui bahwa dari segi ekonomi, kenaikan tarif Pajak Pertambahan Nilai diharapkan bisa memberikan peningkatan pendapatan negara, sebab Pajak Pertambahan Nilai adalah termasuk sebagai sumber pendapatan besar untuk pemerintah. Namun, di lapangan sendiri bisa saja menjadi semakin Kompleks karena dampak dari kenaikan tarif Pajak Pertambahan Nilai terhadap kegiatan ekonomi bisa memberikan pengaruh pada permintaan jasa dan barang dengan keseluruhan, serta dapat berpengaruh pada jumlah pembayaran Pajak Pertambahan Nilai yang dibayarkan pada pemerintah.

Apabila dilihat dari data Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, rencana ketentuan mengenai kenaikan Pajak Pertambahan Nilai akan meningkatkan pendapatan negara kurang lebih Rp350-375 triliun, tetapi juga akan berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional yang mana sebesar 0,12% dan konsumsi masyarakat yang akan mengalami penurunan juga sebesar 3,2% turunnya upah minimum, serta pemerintah akan menghadapi berbagai risiko ekonomi di tengah ketidakpastian Global pada saat ini. Dari berbagai dampak yang muncul karena peningkatan tarif Pajak Pertambahan Nilai ini, tentu saja pemerintah harus semakin cermat dan mengkaji kembali ketika ingin meningkatkan tarif Pajak Pertambahan Nilai menjadi 12%.

Baca Juga: Bupot PPh Pasal 21 Bulanan Instansi Pemerintah Harus Disampaikan Melalui Formulir 1721-A3

Apabila dilihat dampak jangka panjangnya, mungkin bisa saja memunculkan permasalahan lain untuk negara di masa yang akan datang. Dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional yang jumlahnya 0,12%, penurunan konsumsi masyarakat menjadi 3,2%, serta upah minimum yang turun secara signifikan dan berbagai masalah lain yang muncul tentu saja akan menyumbang kerugian pada negara 5 sampai 10 tahun ke depan. Walaupun dengan kenaikan PPN 12% akan memberikan kontribusi yang besar bagi pendapatan negara yaitu Rp350-375 triliun, namun angka pendapatan ini tidak dipungkiri akan menurun setiap periodenya.

Hal tersebut dikarenakan terdapat barang dan jasa yang belum tercatat ke dalam sistem pajak dan masih ada begitu banyak fasilitas Pajak Pertambahan Nilai yang diberikan. Selain itu, penurunan daya beli masyarakat terhadap produk lokal, peningkatan biaya pangan kebutuhan masyarakat, dan pendapatan masyarakat yang bekerja tidak sesuai dengan biaya hidup yang dikeluarkan untuk memenuhi keperluan mereka. Pemerintah hanya bisa melakukan pengumpulan sebanyak 63,58% Pajak Pertambahan Nilai dari total PPN yang seharusnya dipungut, hal ini dilansir dari laman Media Keuangan Kementerian Keuangan.

Untuk menjadi seorang ahli pajak, Anda harus memiliki pengetahuan mendalam terkait pajak. Dan salah satunya adalah dengan mengikuti pelatihan pajak. Tax Academy adalah tempat yang tepat untuk Anda memulainya. Karena di tempat ini merupakan langkah tangga pertama kesuksesan Anda sebagai seorang Expert di bidang industri perpajakan.

Tax Academy menawarkan metode pembelajaran yang mudah dan memiliki jaringan profesional. Beberapa metode tersebut diantaranya adalah Video Learning, Interactive Learning, dan juga Hybrid Learning. Akademi perpajakan yang satu ini dikelola oleh profesional dari WiN Partners yang mengelola berbagai bidang pajak dengan kantornya di Surakarta, Medan dan juga Batam. Hubungi kami sekarang juga untuk Anda yang ingin mengikuti pelatihan pajak dan menjadi Expert di bidang pajak.

images (7)

Apa sih Pajak Air Permukaan?

Pajak Air Permukaan (PAP) telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Pajak air termasuk ke pajak daerah. Awalnya dalam Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Pajak Air Permukaan bernama Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan (PPPABTAP). Namun dalam undang-undang terakhir yakni UU Nomor 28 tahun 2009, PPPABTAP terbagi menjadi dua jenis pajak, yaitu Pajak Air Bawah Tanah (PABT) dan Pajak Air Permukaan (PAP). Berdasarkan undang-undang tersebut, PAP adalah pajak atas pengambilan dan/atau pemanfaatan air permukaan. Lalu, air permukaan yang dimaksud dalam undang-undang tersebut adalah semua air yang terdapat pada permukaan tanah, tidak termasuk air laut, baik yang berada di laut maupun di darat. Continue Reading

Bupot PPh Pasal 21 Bulanan Instansi Pemerintah Harus Disampaikan Melalui Formulir 1721-A3

Bupot PPh Pasal 21 Bulanan Instansi Pemerintah Harus Disampaikan Melalui Formulir 1721-A3

Training pajak merupakan upaya yang tepat untuk diikuti oleh orang-orang yang ingin memperoleh wawasan di dunia perpajakan. Karena training pajak ini akan memberikan pengetahuan melalui berbagai materi perpajakan, mulai dari perpajakan dasar hingga perpajakan lanjutan, tergantung pada tingkatan training pajak yang dipilih.

Sebagai seseorang yang ingin menguasai ilmu perpajakan, tidak kalah penting untuk mengetahui tentang formulir yang biasanya digunakan atau terdapat pada bukti potong. Seperti halnya ulasan berikut ini yang akan membahas lebih lanjut mengenai formulir 1721-A3 yang terdapat dalam Bupot Pajak Penghasilan Pasal 21 bulanan instansi pemerintah.

DJP atau Direktorat Jenderal Pajak telah melakukan penerbitan kebijakan baru tentang aturan pembuatan Depot atau bukti potong untuk instansi pemerintah. Dengan melalui peraturan Direktorat Jenderal Pajak No. PER-5/PJ/2024, saat ini instansi pemerintah mempunyai kewajiban baru untuk melakukan pembuatan bukti potong Pajak Penghasilan Pasal 21 bulanan dengan formulir 1721-A3.

Kebijakan yang satu ini sekaligus untuk memperbarui kebijakan yang sebelumnya yakni pada PER-17/PJ/2021, yang tujuannya adalah supaya bisa memberikan penyesuaian terhadap kebijakan Pajak Penghasilan Pasal 21 maupun Pajak Penghasilan Pasal 26 yang tercantum pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168 Tahun 2023.

Mengenal Formulir 1721-A3

Formulir 1721-A3 merupakan bupot (bukti potong) dari Pajak Penghasilan pasal 21 bulanan yang harus diisi oleh instansi pemerintah ketika tiba waktu masa pajak sebelum masa pajaknya terakhir. Yang dimaksud dari masa pajak terakhir yaitu terdiri dari masa pajak di bulan Desember, Masa pajak kepegawai tetap yang resign atau berhenti bekerja, serta masa pajak yang mana pensiunan sudah tidak lagi menerima uang pensiun.

Apabila merujuk pada PER-5/PJ/2024 pasal 3, formulir 1721-A3 diberikan pada pegawai tetap, PNS, anggota Polri dan TNI, pensiunan yang menerima uang pensiun secara berkala, pejabat negara, dan pensiunannya atas pemotongan Pajak Penghasilan yang berkaitan dengan jabatan maupun pekerjaan. Formulir seperti ini hanya bisa dipergunakan untuk satu pihak penerima penghasilan, satu Masa pajak, dan satu kode objek pajak.

Baca Juga: Ketahui Alasan Penerimaan Pajak Hingga April 2024 Secara Turun Signifikan

Pembuatan Formulir 1721-A3

Formulir 1721-A3 dapat dibuat dengan memanfaatkan aplikasi bukti potong elektronik instansi pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pajak online. Instansi pemerintah bisa melakukan pengisian informasi yang diperlukan dengan melakukan impor data maupun secara langsung. Terdapat berbagai syarat untuk menggunakan e-bupot atau bukti potong elektronik instansi pemerintah, yaitu pihak pemotong harus mempunyai:

  • EFIN atau Electronic Filing Identification Number untuk keperluan akun Direktorat Jenderal Pajak online.
  • Kode otorisasi Direktorat Jenderal Pajak maupun sertifikat elektronik untuk menandatangani dengan menggunakan tanda tangan digital.

Batas Waktu Pemberian

Wajib pajak seperti instansi pemerintah sebagai pemotong pajak, memiliki kewajiban untuk menyerahkan atau menyampaikan bukti potong Pajak Penghasilan Pasal 21 bulanan dengan formulir 1721-A3 paling lambat 1 bulan sesudah masa pajak berakhir, kecuali masa pajak terakhir. Sehingga, apabila pegawai pemerintah memperoleh pendapatan atau penghasilannya di bulan Juni 2024, maka bukti potong Pajak Penghasilan 21 bulanan yang disampaikan melalui formulir 1721-43 wajib diberikan oleh instansi pemerintah paling lambat pada bulan Juli tahun 2024.

Jika seperti ini sangat penting untuk diketahui supaya bisa memberikan kepastian pada semua pihak yang terlibat mempunyai dokumentasi yang dibutuhkan untuk ke kebutuhan perpajakan dan para pegawai yang bersangkutan. Perlu diketahui bahwa kebijakan PER-5/PJ/2024 akan mulai berlaku pada masa pajak mulai Juni 2024.

Untuk menjadi seorang ahli pajak, Anda harus memiliki pengetahuan mendalam terkait pajak. Dan salah satunya adalah dengan mengikuti training pajak. Tax Academy adalah tempat yang tepat untuk Anda memulainya. Karena di tempat ini merupakan langkah tangga pertama kesuksesan Anda sebagai seorang Expert di bidang industri perpajakan.

Tax Academy menawarkan metode pembelajaran yang mudah dan memiliki jaringan profesional. Beberapa metode tersebut diantaranya adalah Video Learning, Interactive Learning, dan juga Hybrid Learning. Akademi perpajakan yang satu ini dikelola oleh profesional dari WiN Partners yang mengelola berbagai bidang pajak dengan kantornya di Surakarta, Medan dan juga Batam. Hubungi kami sekarang juga untuk Anda yang ingin mengikuti training pajak dan menjadi Expert di bidang pajak.

Ketahui Langkah dan Kewajiban Pemeriksaan Pajak untuk Tujuan Lain

Ketahui Langkah dan Kewajiban Pemeriksaan Pajak untuk Tujuan Lain

Brevet Pajak – Pemeriksaan pajak merupakan bagian dari upaya yang dilakukan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) untuk menjamin kepatuhan wajib pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakannya. Pemeriksaan pajak tidak hanya dilakukan untuk memverifikasi kebenaran pelaporan pajak yang disampaikan, namun juga untuk keperluan lain yang dianggap penting oleh administrasi perpajakan. Pemeriksaan pajak untuk tujuan lain ini mencakup berbagai aspek yang bertujuan untuk menjaga sistem perpajakan yang adil dan efisien. Oleh karena itulah betapa pentingnya untuk memahami terkait perpajakan dengan brevet pajak. Artikel ini akan membahas tentang langkah dan kewajiban pemeriksaan pajak untuk tujuan lain.

Tujuan Pemeriksaan Pajak Tujuan Lainnya

Pemeriksaan pajak untuk tujuan lain dilakukan karena berbagai alasan, antara lain:

  • Menilai Kembali Utang Pajak, untuk menilai kembali utang pajak dari tahun-tahun sebelumnya yang mungkin tidak dilaporkan atau salah dilaporkan.
  • Pemeriksaan khusus, terhadap sektor-sektor tertentu yang dianggap mempunyai risiko tinggi terjadinya penghindaran pajak atau pelanggaran perpajakan.
  • Kontrol Wajib Pajak, memastikan bahwa wajib pajak tertentu mematuhi ketentuan perpajakan yang berlaku, termasuk mereka yang terlibat dalam transaksi internasional atau kompleks.
  • Penegakan Hukum, mengidentifikasi dan mengambil tindakan terhadap wajib pajak yang diduga melakukan penggelapan pajak atau pelanggaran lainnya.

Tahap Pemeriksaan Pajak

Pemeriksaan pajak untuk tujuan lain biasanya melalui beberapa tahapan yang sistematis dan terstruktur:

Mempersiapkan ujian

Langkah ini meliputi penentuan wajib pajak mana yang akan diperiksa berdasarkan kriteria tertentu, seperti hasil analisis risiko atau informasi dari pihak ketiga. DJP menerbitkan Surat Perintah Pemeriksaan (SP2) yang memuat keterangan tentang tujuan dan ruang lingkup pemeriksaan.

Pelaksanaan inspeksi

Pemeriksa pajak akan mengunjungi lokasi wajib pajak dan mengumpulkan data dan informasi yang relevan. Kegiatan pemeriksaan meliputi wawancara, verifikasi dokumen, dan analisis laporan keuangan dan transaksi.

Tes dan analisis

Data yang dikumpulkan akan diuji dan dianalisis untuk memastikan keakuratan dan kepatuhannya terhadap peraturan perpajakan. Pemeriksa pajak akan menggunakan teknik pemeriksaan tertentu untuk mendeteksi ketidaksesuaian atau anomali dalam pengembalian pajak.

Persiapan Laporan Inspeksi

Setelah pengujian selesai, auditor menyiapkan laporan yang berisi temuan pemeriksaan dan kesimpulan mengenai kepatuhan wajib pajak. Laporan ini menjadi dasar bagi DJP untuk mengambil tindakan tambahan, khususnya dengan menerbitkan surat pemberitahuan pajak apabila terdapat kekurangan pembayaran pajak.

Penyerahan hasil ujian

Hasil dari pemeriksaan akan disampaikan kepada Wajib Pajak melalui Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan (SPHP). Wajib Pajak mempunyai kesempatan untuk bereaksi terhadap hasil pemeriksaan dan mengajukan keberatan apabila tidak setuju dengan temuan pemeriksa.

Menindaklanjuti

Berdasarkan hasil pemeriksaan dan tanggapan wajib pajak, DJP dapat menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB), Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB), atau Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN). Wajib Pajak harus melunasi kewajiban pajaknya yang kurang dibayar sesuai dengan ketentuan yang diberikan.

Baca Juga: Mengalami Penolakan Faktur Pajak? Ketahui Apa Penyebabnya dan Solusi Penanganannya

Kewajiban Wajib Pajak

Dalam proses pemeriksaan, Wajib Pajak mempunyai beberapa kewajiban yang harus dipenuhi:

Keterbukaan dan kejujuran

Wajib Pajak harus memberikan keterangan dan dokumen yang benar dan lengkap kepada pemeriksa pajak.

Ketersediaan dokumen

Wajib Pajak harus menyediakan seluruh dokumen yang diminta pemeriksa, antara lain laporan keuangan, bukti transaksi, dan dokumen pendukung lainnya.

Kooperatif

Wajib Pajak diharapkan bersikap kooperatif selama proses pemeriksaan, termasuk memberikan akses kepada pemeriksa untuk melakukan pemeriksaan di lokasi perusahaan.

Respon terhadap hasil ujian

Wajib Pajak harus menanggapi hasil pemeriksaan dalam jangka waktu yang ditentukan, baik untuk menerima hasil pemeriksaan maupun mengajukan keberatan.

Pemeriksaan pajak untuk tujuan lain merupakan bagian penting dari sistem perpajakan yang bertujuan untuk menjamin kepatuhan wajib pajak dan keadilan penilaian pajak. Dengan memahami langkah-langkah dan kewajiban yang ada, maka wajib pajak dapat lebih siap menghadapi pemeriksaan dan memenuhi kewajiban perpajakannya dengan baik. Hal ini tidak hanya membantu menghindari sanksi, namun juga mendukung terciptanya sistem perpajakan yang transparan dan adil.

Untuk menjadi seorang ahli pajak, Anda harus memiliki pengetahuan mendalam terkait pajak. Dan salah satunya adalah dengan mengikuti brevet pajak. Tax Academy adalah tempat yang tepat untuk Anda memulainya. Karena di tempat ini merupakan langkah tangga pertama kesuksesan Anda sebagai seorang Expert di bidang industri perpajakan.

Tax Academy menawarkan metode pembelajaran yang mudah dan memiliki jaringan profesional. Beberapa metode tersebut diantaranya adalah Video Learning, Interactive Learning, dan juga Hybrid Learning. Akademi perpajakan yang satu ini dikelola oleh profesional dari WiN Partners yang mengelola berbagai bidang pajak dengan kantornya di Surakarta, Medan dan juga Batam. Hubungi kami sekarang juga untuk Anda yang ingin mengikuti brevet pajak dan menjadi Expert di bidang pajak.

Mengalami Penolakan Faktur Pajak? Ketahui Apa Penyebabnya dan Solusi Penanganannya

Mengalami Penolakan Faktur Pajak? Ketahui Apa Penyebabnya dan Solusi Penanganannya

Pelatihan Pajak – Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang mengunggah faktur pajak harus memastikan terlebih dahulu bahwa aplikasi e-faktur yang mereka digunakan telah diperbarui ke versi terbaru. Penggunaan e-faktur yang sudah kadaluarsa dapat menyebabkan faktur pajak gagal terunggah, yang biasa disebut dengan faktur pajak ditolak. Tagihan pajak yang ditolak merupakan kesalahan yang terjadi ketika wajib pajak menolak menerima tagihan pajak yang sah.

Hal ini biasanya disebabkan oleh perbedaan informasi antara wajib pajak dan otoritas pajak, yang mungkin disebabkan oleh kesalahan data, rincian yang hilang, atau masalah teknis. Pelatihan pajak dapat memberikan benefit bagi Anda yang mengikutinya jika terkena masalah seperti adanya penolakan faktur pajak, Oleh karena itu, penting bagi wajib pajak untuk memeriksa dokumennya dengan cermat sebelum mengirimkannya ke kantor pajak untuk menghindari penolakan.

Faktur pajak merupakan salah satu bagian penting dalam administrasi perpajakan bagi Pengusaha Kena Pajak (PKP). Namun tidak jarang faktur pajak yang disampaikan oleh PKP ditolak oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) atau oleh pembeli. Penolakan ini bisa menimbulkan berbagai konsekuensi, baik bagi PKP maupun pihak terkait lainnya. Artikel ini akan membahas penyebab utama penolakan faktur pajak dan cara menghindari penolakan tersebut.

Alasan Penolakan Faktur Pajak

Informasi yang tidak lengkap atau salah

Salah satu penyebab utama penolakan faktur pajak adalah informasi yang tidak lengkap atau salah. Faktur pajak harus memuat beberapa informasi wajib, seperti:

  • Nama, alamat dan NPWP penjual dan pembeli.
  • Nomor seri faktur pajak.
  • Tanggal pembuatan faktur pajak.
  • Deskripsi barang atau jasa yang dinegosiasikan.
  • Total harga jual dan PPN yang dipungut.

Apabila salah satu atau lebih informasi tersebut tidak lengkap atau salah, maka faktur pajak dapat ditolak.

Faktur Pajak Fiktif atau Palsu

Penolakan juga terjadi apabila faktur pajak yang disampaikan ternyata fiktif atau palsu. Faktur pajak fiktif adalah faktur yang diterbitkan untuk suatu transaksi yang sebenarnya tidak ada. DJP memiliki mekanisme untuk memverifikasi keabsahan faktur pajak, terutama melalui rekonsiliasi data dan pemeriksaan. Jika ditemukan indikasi penipuan, maka faktur pajak akan ditolak.

Kesalahan saat menggunakan Kode dan Nomor Seri

Faktur pajak memiliki format khusus yang dilengkapi kode unik dan nomor seri. Kesalahan penulisan kode atau penggunaan nomor seri yang tidak tepat dapat mengakibatkan penolakan. Misalnya, penggunaan nomor seri faktur pajak yang sudah kadaluarsa atau mengulang nomor seri dapat menjadi alasan penolakan.

Tidak Memenuhi Persyaratan Subjektif dan Objektif

Persyaratan subyektif merupakan kriteria yang harus dipenuhi oleh penjual atau pembeli sebagai PKP yang sah. Syarat obyektif meliputi syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh barang atau jasa yang ditransaksikan. Faktur pajak dapat ditolak apabila salah satu pihak tidak memenuhi syarat sebagai PKP atau barang/jasa yang diproses tidak termasuk dalam golongan kena PPN.

Diterbitkan Terlambat

Faktur pajak harus diterbitkan dalam jangka waktu tertentu setelah transaksi. Biasanya batas waktu penerbitan paling lambat pada akhir bulan setelah bulan terjadinya transaksi. Apabila faktur pajak diterbitkan setelah batas waktu tersebut, maka dapat ditolak.

Baca Juga: Pentingnya Pemahaman Cloud Computing dalam Training Pajak Serta Kelebihan dan Kekurangannya

Dampak Penolakan Tagihan Pajak

Kerugian Keuangan

Penolakan faktur pajak dapat mengakibatkan kerugian finansial bagi PKP. PPN yang dibayarkan tidak dapat dikreditkan sehingga mengakibatkan PKP harus menanggung beban pajak yang lebih berat. Hal ini juga dapat berdampak pada arus kas perusahaan.

Denda dan Sanksi Administratif

Apabila penolakan faktur pajak karena pelanggaran administratif, maka PKP dapat dikenakan denda atau sanksi. Misalnya saja, penerbitan faktur pajak fiktif atau palsu dapat mengakibatkan sanksi yang berat, termasuk denda dan tuntutan pidana.

Hilangnya Reputasi

Penolakan faktur pajak juga dapat merusak reputasi perusahaan. Pelanggan atau mitra bisnis mungkin kehilangan kepercayaan, yang dapat berdampak negatif pada hubungan bisnis jangka panjang.

Lalu Bagaimana Cara Menghindari Penolakan Faktur Pajak

Periksa datanya dengan cermat

Pastikan semua informasi pada faktur pajak lengkap dan akurat. Verifikasi detail penjual dan pembeli, termasuk NPWP, nama dan alamat, sebelum menerbitkan faktur pajak.

Gunakan sistem elektronik yang terintegrasi

Penggunaan sistem faktur pajak elektronik yang terintegrasi dengan sistem keuangan perusahaan dapat mengurangi risiko human error dan memastikan faktur pajak yang diterbitkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Memahami peraturan perpajakan yang berlaku

Penting bagi PKP untuk selalu mengupdate pengetahuannya mengenai peraturan perpajakan yang berlaku. Menghadiri pelatihan atau seminar perpajakan dapat membantu memahami perubahan aturan dan menghindari kesalahan yang dapat mengakibatkan ditolaknya tagihan pajak.

Konsultasi dengan profesional pajak

Jika ragu, konsultasikan dengan profesional pajak atau penasihat pajak. Mereka dapat memberikan saran yang tepat dan membantu memastikan bahwa faktur pajak yang diterbitkan memenuhi semua persyaratan.

Untuk menjadi seorang ahli pajak, Anda harus memiliki pengetahuan mendalam terkait pajak. Dan salah satunya adalah dengan mengikuti pelatihan pajak. Tax Academy adalah tempat yang tepat untuk Anda memulainya. Karena di tempat ini merupakan langkah tangga pertama kesuksesan Anda sebagai seorang Expert di bidang industri perpajakan.

Tax Academy menawarkan metode pembelajaran yang mudah dan memiliki jaringan profesional. Beberapa metode tersebut diantaranya adalah Video Learning, Interactive Learning, dan juga Hybrid Learning. Akademi perpajakan yang satu ini dikelola oleh profesional dari WiN Partners yang mengelola berbagai bidang pajak dengan kantornya di Surakarta, Medan dan juga Batam. Hubungi kami sekarang juga untuk Anda yang ingin mengikuti pelatihan pajak dan menjadi Expert di bidang pajak.

Ketahui Alasan Penerimaan Pajak Hingga April 2024 Secara Turun Signifikan

Ketahui Alasan Penerimaan Pajak Hingga April 2024 Secara Turun Signifikan

Kursus pajak dapat membantu anda untuk menguasai berbagai ilmu perpajakan. Terlebih kursus pajak akan memberikan Anda materi mengenai kebijakan perundang-undangan perpajakan. Tentu saja selain mengikuti kelas perpajakan seperti ini, tidak kalah penting bagi anda untuk mengikuti perkembangan berita perpajakan yang sedang hangat diperbincangkan. Seperti halnya pada saat ini bahwa penerimaan pajak sampai bulan April 2024 dinyatakan anjlok, apa yang menjadi penyebabnya? Ulasan berikut ini akan membahas lebih lanjut alasan mengapa penerimaan pajak sampai bulan April tahun 2024 ini turun secara signifikan.

Kemenkeu atau Kementerian Keuangan telah memiliki catatan bahwa PPH badan atau Pajak Penghasilan badan masih terbukti sebagai sumber utama untuk penerimaan pajak sampai bulan April tahun 2024, walaupun kontribusinya sendiri Mengalami penurunan yang signifikan sejumlah 35,5%. Sri Mulyani Indrawati selaku Menteri Keuangan memberikan pernyataan bahwa jenis pajak ini telah memberikan sumbangan sebesar 22,1% dari total penerimaan pajak, tetapi hal tersebut dikarenakan profitabilitas korporasi menjadi menurun akibat penurunan harga komoditas, yang menjadi akibat dari penurunan setoran Pajak Penghasilan badan.

Industri pengolahan secara sektoral yang memberikan sumbangan sebesar 26% dari total penerimaan pajak pun, ternyata mengalami kontraksi dengan penurunan sejumlah 13,8%. Dari penurunan tersebut sebabnya adalah karena penurunan Pajak Penghasilan tahunan badan dan adanya restitusi yang meningkat, terlebih pada subsektor logam, industri sawit, dan pupuk. Fajry Akbar selaku Pengamat Pajak dari Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA), memberikan penegasan bahwa kinerja penerimaan pajak di bulan April tahun 2024 masih dipengaruhi oleh kinerja buruk Pajak Penghasilan badan. Kondisi perekonomian tahun sebelumnya yaitu 2023, yang mana harga komoditas turun secara signifikan.

Hal ini menjadi penyebab banyaknya korporasi yang melakukan pengajuan penurunan angsuran Pajak Penghasilan badan dan dampaknya adalah pada penerimaan sampai bulan April tahun 2024. Seiring dengan berakhirnya periode penyampaian surat pemberitahuan tahunan badan di akhir bulan April. Selain itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani pun memberikan catatan bahwa penerimaan pajak negara di bulan April tahun 2024 telah mencapai sebesar 31,38% atau setara dengan Rp624,19 triliun dari target anggaran pendapatan dan belanja negara. Pencapaian tersebut memberikan gambaran pada perlambatan dengan adanya persentase penurunan sejumlah 9,20% daripada periode yang sama di tahun sebelumnya.

Baca Juga: Daftar NPWP Baru? Ternyata Sekarang Tidak Perlu Pemadanan NIK

Pajak penghasilan non migas Mengalami penurunan pula sejumlah 5,43% menjadi sebesar Rp 377 triliun, sementara pajak bumi dan bangunan dan berbagai pajak lainnya juga menurun sebesar 22,59% menjadi Rp 3,87 triliun. Kondisi seperti ini disebabkan karena tagihan pajak di tahun sebelumnya yang tidak terulang dan terdapat penurunan lifting pada Pajak Penghasilan minyak dan gas.

Tetapi, terdapat berbagai sektor yang memberikan Hasil pertumbuhan, seperti Pajak Penghasilan pasal 21 yang sebesar 41,4%, Pajak Penghasilan pasal 22 impor yang tumbuh sebesar 2,8%, Pajak Penghasilan orang pribadi yang tumbuh sebesar 10,5%, Pajak Penghasilan pasal 26 yang tumbuh sebesar 5%, dan Pajak Penghasilan final yang tumbuh sebesar 15,1%.

Selain itu, Pajak Pertambahan Nilai impor juga tumbuh sebesar 0,3%. Kendati demikian, Pajak Penghasilan badan mengalami kontraksi sebesar 35,5 persen dan Pajak Pertambahan Nilai dalam negeri juga turun sebesar 13,9%. Kemudian, pengamat pajak lebih lanjut juga memberikan Penjelasan bahwa penerimaan pajak masih menggambarkan kondisi ekonomi tahun sebelumnya, sebab angsuran Pajak Penghasilan pasal 25 sebagian besar masih mempergunakan besaran di tahun sebelumnya.

Untuk menjadi seorang ahli pajak, Anda harus memiliki pengetahuan mendalam terkait pajak. Dan salah satunya adalah dengan mengikuti kursus pajak. Tax Academy adalah tempat yang tepat untuk Anda memulainya. Karena di tempat ini merupakan langkah tangga pertama kesuksesan Anda sebagai seorang Expert di bidang industri perpajakan.

Tax Academy menawarkan metode pembelajaran yang mudah dan memiliki jaringan profesional. Beberapa metode tersebut diantaranya adalah Video Learning, Interactive Learning, dan juga Hybrid Learning. Akademi perpajakan yang satu ini dikelola oleh profesional dari WiN Partners yang mengelola berbagai bidang pajak dengan kantornya di Surakarta, Medan dan juga Batam. Hubungi kami sekarang juga untuk Anda yang ingin mengikuti kursus pajak dan menjadi Expert di bidang pajak.

Daftar NPWP Baru? Ternyata Sekarang Tidak Perlu Pemadanan NIK

Daftar NPWP Baru? Ternyata Sekarang Tidak Perlu Pemadanan NIK

Brevet pajak dapat membantu anda untuk memperoleh berbagai pengetahuan tentang perundang-undangan perpajakan. Pada umumnya orang-orang yang mengikuti kelas perpajakan seperti berkat pajak ini adalah orang-orang yang ingin menguasai ilmu perpajakan, seperti halnya calon konsultan pajak atau wajib pajak. Oleh karena itu, untuk orang-orang yang ingin menguasai ilmu perpajakan tidak kalah penting mengetahui kebijakan terbaru mengenai perpajakan itu sendiri. Seperti salah satunya adalah mengenai pendaftaran Nomor Pokok Wajib Pajak baru yang ternyata tidak perlu melakukan pemadanan Nomor Induk Kependudukan atau NIK terlebih dahulu. Mengapa demikian? Ulasan berikut ini akan membahas lebih lanjut dan menjelaskan dengan lebih lengkap.

Wajib pajak yang baru saja mempunyai NPWP atau Nomor Pokok Wajib Pajak pada saat ini sudah tidak perlu lagi melakukan pemadanan dengan NIK atau Nomor Induk Kependudukan sebagai Nomor Pokok Wajib Pajak dengan cara manual, sebab proses tersebut sudah dilakukan secara otomatis oleh DJP atau Direktorat Jenderal Pajak. Telah tertuang pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 12 Tahun 2022 Pasal 10 ayat 1, bahwa Direktorat Jenderal Pajak melakukan pengaktifan Nomor Induk Kependudukan sebagai Nomor Pokok Wajib Pajak untuk wajib pajak orang pribadi yang melakukan pendaftaran NPWP semenjak tanggal 8 Juli Tahun 2022.

Dengan begitu, Nomor Induk Kependudukan secara otomatis dapat dilakukan aktivasinya tanpa perlu melakukan pemadanan data manual oleh wajib pajak yang baru membuat Nomor Pokok Wajib Pajak. Sampai tanggal 7 Mei tahun 2024, telah terdapat setidaknya 67,8 juta Nomor Induk Kependudukan atau NIK yang telah dipadankan sebagai Nomor Pokok Wajib Pajak bagi wajib pajak orang pribadi. Angka tersebut telah setara dengan 91,82% dari total wajib pajak orang pribadi yang ada di Indonesia. Direktorat Jenderal Pajak selalu melakukan himbauan supaya wajib pajak melakukan pemadanan Nomor Induk Kependudukan sebagai Nomor Pokok Wajib Pajak.

Penting untuk diketahui bahwa mulai 1 Juli 2024 nanti, Nomor Induk Kependudukan resmi dipergunakan sebagai Nomor Pokok Wajib Pajak untuk wajib pajak orang pribadi yang berada di dalam negeri, yang mana hal tersebut telah tercantum dalam peraturan Menteri Keuangan nomor 136 tahun 2023. Walaupun masih kurang lebih satu bulan lagi, Nomor Induk Kependudukan pada saat ini sudah dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari pembuatan faktur pajak, pembuatan bukti potong pajak penghasilan, dan pelaporan informasi keuangan domestik.

Baca Juga: Respons Masyarakat Atas Terbitnya Kebijakan Baru tentang Potong Gaji Pekerja untuk Tapera

Mengalami Kegagalan Saat Validasi NIK?

Terdapat masalah yang seringkali terjadi ketika proses registrasi Nomor Pokok Wajib Pajak yaitu kegagalan validasi NIK atau Nomor Induk Kependudukan. Kegagalan ini disebabkan karena berbagai macam hal, meliputi Nomor Induk Kependudukan Yang tidak ditemukan, Nomor Induk Kependudukan yang telah terdaftar pada Nomor Pokok Wajib Pajak, Nomor Induk Kependudukan pemohon dan Nomor Induk Kependudukan pada Nomor Pokok Wajib Pajak suami yang tidak berada dalam satu KK (Kartu keluarga), dan akun Nomor Pokok Wajib Pajak online yang terblokir.

Pada umumnya, proses pendaftaran Nomor Pokok Wajib Pajak akan membutuhkan waktu beberapa menit dengan pemberitahuan melalui email. Tetapi, apabila proses tersebut ditolak oleh Direktorat Jenderal Pajak atau gagal, mungkin saja terdapat kesalahan ketika proses pendaftaran NPWP yang menyebabkan validasi Nomor Induk Kependudukannya gagal. Terdapat berbagai hal penyebab kegagalan ini, selain yang telah disebutkan, alamat yang tidak sesuai dengan KTP juga bisa menyebabkan kegagalan tersebut.

Untuk menjadi seorang ahli pajak, Anda harus memiliki pengetahuan mendalam terkait pajak. Dan salah satunya adalah dengan mengikuti brevet pajak. Tax Academy adalah tempat yang tepat untuk Anda memulainya. Karena di tempat ini merupakan langkah tangga pertama kesuksesan Anda sebagai seorang Expert di bidang industri perpajakan.

Tax Academy menawarkan metode pembelajaran yang mudah dan memiliki jaringan profesional. Beberapa metode tersebut diantaranya adalah Video Learning, Interactive Learning, dan juga Hybrid Learning. Akademi perpajakan yang satu ini dikelola oleh profesional dari WiN Partners yang mengelola berbagai bidang pajak dengan kantornya di Surakarta, Medan dan juga Batam. Hubungi kami sekarang juga untuk Anda yang ingin mengikuti brevet pajak dan menjadi Expert di bidang pajak.