Perhitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 atau PPh 21 menjadi salah satu bagian penting dalam pengelolaan payroll dan administrasi pajak perusahaan. Bagi karyawan, perhitungan ini menentukan besarnya pajak yang dipotong dari penghasilan. Sementara bagi perusahaan, kesalahan menghitung PPh 21 dapat memengaruhi pemotongan, penyetoran, pelaporan, hingga pencatatan biaya karyawan.
Sejak berlakunya mekanisme Tarif Efektif Rata-rata atau TER, cara hitung PPh 21 untuk pegawai tetap menjadi lebih sederhana pada sebagian besar masa pajak. Namun, bukan berarti seluruh perhitungan cukup dilakukan dengan mengalikan gaji dengan satu tarif yang sama sepanjang tahun.
Perusahaan tetap perlu memperhatikan status Penghasilan Tidak Kena Pajak atau PTKP, kategori TER, jenis penghasilan, serta penghitungan kembali pada masa pajak terakhir.
Apa Itu PPh Pasal 21?
PPh Pasal 21 merupakan pajak atas penghasilan berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama atau dalam bentuk apa pun sehubungan dengan pekerjaan, jasa, jabatan, atau kegiatan yang diterima oleh orang pribadi.
Dalam hubungan kerja, pemberi kerja pada umumnya berperan sebagai pihak yang melakukan pemotongan PPh 21. Pajak yang telah dipotong tersebut kemudian disetor dan dilaporkan sesuai ketentuan perpajakan yang berlaku.
Karena komponen penghasilan setiap orang dapat berbeda, jumlah PPh 21 yang dipotong juga tidak selalu sama meskipun nilai gajinya terlihat serupa.
Kenapa Cara Hitung PPh 21 Sekarang Berbeda?
Sejak 1 Januari 2024, pemerintah menerapkan Tarif Efektif Rata-rata atau TER untuk menyederhanakan mekanisme pemotongan PPh Pasal 21.
Untuk pegawai tetap, penghitungan pada masa pajak selain masa pajak terakhir pada dasarnya menjadi:
PPh 21 = Penghasilan Bruto Bulanan × Tarif Efektif Bulanan
Tarif tersebut tidak ditentukan hanya berdasarkan besarnya penghasilan. Status PTKP pegawai juga menentukan apakah seseorang masuk ke dalam TER Kategori A, B, atau C.
Pada masa pajak terakhir, mekanismenya berbeda. PPh 21 dihitung kembali berdasarkan penghasilan selama tahun tersebut menggunakan tarif progresif Pasal 17, kemudian dikurangi PPh 21 yang telah dipotong pada masa-masa sebelumnya.
Kenali Kategori TER Sebelum Menghitung PPh 21
Langkah penting dalam memahami cara hitung PPh 21 adalah menentukan kategori Tarif Efektif Bulanan yang sesuai dengan status PTKP pegawai.
| Kategori TER | Status PTKP |
|---|---|
| Kategori A | TK/0, TK/1, dan K/0 |
| Kategori B | TK/2, TK/3, K/1, dan K/2 |
| Kategori C | K/3 |
Keterangan:
- TK berarti tidak kawin;
- K berarti kawin; dan
- angka setelah tanda garis miring menunjukkan jumlah tanggungan yang diperhitungkan dalam PTKP.
Sebagai contoh, pegawai berstatus K/0 atau kawin tanpa tanggungan masuk dalam TER Kategori A. Pegawai berstatus K/2 masuk dalam Kategori B, sedangkan K/3 masuk dalam Kategori C.
Setelah kategori diketahui, tarif efektif ditentukan berdasarkan besarnya penghasilan bruto pegawai pada bulan tersebut.
Cara Hitung PPh 21 Pegawai Tetap Januari sampai November
Untuk memahami mekanismenya, kita dapat menggunakan contoh pegawai tetap dengan kondisi berikut:
- gaji bulanan: Rp10.000.000;
- status PTKP: K/0;
- iuran pensiun yang dibayar pegawai: Rp100.000 per bulan; dan
- tidak terdapat perubahan penghasilan selama Januari sampai November.
Status K/0 membuat pegawai masuk ke dalam TER Kategori A. Untuk penghasilan bruto Rp10.000.000 per bulan, tarif efektif yang berlaku adalah 2%.
Maka perhitungan PPh 21 bulan Januari adalah:
Rp10.000.000 × 2% = Rp200.000
Apabila kondisi penghasilannya tetap sama, maka PPh 21 yang dipotong setiap bulan dari Januari sampai November sebesar Rp200.000.
Dalam mekanisme TER, perusahaan tidak perlu menghitung penghasilan neto tahunan dan PTKP setiap bulan untuk menentukan pemotongan tersebut. Hal inilah yang membuat proses penghitungan payroll bulanan menjadi lebih sederhana.
Bagaimana Cara Hitung PPh 21 pada Bulan Desember?
Bagian yang sering terlewat ketika membahas TER adalah penghitungan masa pajak terakhir.
TER digunakan untuk mempermudah pemotongan sepanjang tahun, tetapi jumlah pajak tahunan tetap ditentukan berdasarkan perhitungan PPh orang pribadi menggunakan tarif progresif Pasal 17.
Menggunakan contoh pegawai sebelumnya, apabila ia menerima gaji Rp10.000.000 per bulan selama satu tahun, maka:
| Penghasilan bruto setahun | Rp120.000.000 |
| Biaya jabatan | Rp6.000.000 |
| Iuran pensiun setahun | Rp1.200.000 |
| Penghasilan neto setahun | Rp112.800.000 |
| PTKP K/0 | Rp58.500.000 |
| Penghasilan Kena Pajak | Rp54.300.000 |
Karena Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp54.300.000 masih berada pada lapisan pertama tarif progresif, pajaknya adalah:
5% × Rp54.300.000 = Rp2.715.000
Selama Januari sampai November, perusahaan telah memotong:
11 × Rp200.000 = Rp2.200.000
Maka PPh 21 yang perlu dipotong pada Desember adalah:
Rp2.715.000 − Rp2.200.000 = Rp515.000
Karena itulah nilai PPh 21 pada Desember dapat lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya. Desember menjadi periode rekonsiliasi antara pajak tahunan yang sebenarnya terutang dengan pemotongan yang telah dilakukan menggunakan TER.
Tarif Progresif yang Digunakan pada Masa Pajak Terakhir
Penghitungan PPh 21 tahunan menggunakan lapisan tarif Pajak Penghasilan orang pribadi sebagai berikut:
| Lapisan Penghasilan Kena Pajak | Tarif |
|---|---|
| Sampai dengan Rp60 juta | 5% |
| Di atas Rp60 juta sampai dengan Rp250 juta | 15% |
| Di atas Rp250 juta sampai dengan Rp500 juta | 25% |
| Di atas Rp500 juta sampai dengan Rp5 miliar | 30% |
| Di atas Rp5 miliar | 35% |
Tarif tersebut bersifat progresif. Artinya, seluruh Penghasilan Kena Pajak tidak langsung dikenakan dengan tarif tertinggi yang tercapai. Setiap bagian penghasilan dikenakan tarif sesuai lapisannya masing-masing.
Bagaimana Jika Ada THR atau Bonus?
THR, bonus, jasa produksi, tantiem, gratifikasi, dan penghasilan tidak teratur lainnya dapat memengaruhi PPh 21 pada bulan ketika penghasilan tersebut diterima.
Dalam penghitungan menggunakan TER, penghasilan tidak teratur tersebut pada dasarnya digabungkan dengan penghasilan bruto pada bulan yang sama.
Misalnya, seorang pegawai menerima gaji sekaligus THR pada April. Penghasilan bruto April akan menjadi lebih tinggi dibandingkan bulan biasa. Besarnya penghasilan bruto tersebut kemudian digunakan untuk menentukan lapisan TER pada bulan April.
Akibatnya, persentase TER maupun nominal PPh 21 pada bulan pembayaran THR atau bonus dapat meningkat.
Namun, hal tersebut tidak otomatis berarti beban pajak tahunan pegawai bertambah akibat penggunaan TER. Pada masa pajak terakhir dilakukan penghitungan kembali atas penghasilan satu tahun untuk menentukan jumlah pajak yang sebenarnya terutang.
Penghasilan Apa Saja yang Perlu Diperhatikan?
Dalam menghitung PPh 21, perusahaan tidak sebaiknya hanya melihat nominal gaji pokok. Komponen penghasilan lain yang dibayarkan kepada pegawai juga perlu diperiksa sesuai karakter dan ketentuan perpajakannya.
Komponen tersebut dapat berupa:
- gaji atau upah;
- tunjangan tetap;
- tunjangan tidak tetap;
- THR;
- bonus;
- lembur;
- insentif;
- premi tertentu;
- imbalan lain yang berhubungan dengan pekerjaan; dan
- pemberian dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan yang termasuk objek pajak sesuai ketentuan.
Identifikasi komponen penghasilan menjadi penting karena kesalahan menentukan penghasilan bruto dapat menyebabkan kesalahan pada tarif maupun PPh 21 yang dipotong.
Apakah Semua Penerima Penghasilan Menggunakan TER Bulanan?
Tidak. Mekanisme perhitungan PPh 21 bergantung pada jenis penerima penghasilan dan pola pembayaran yang dilakukan.
TER bulanan digunakan antara lain dalam mekanisme pemotongan pegawai tetap pada masa selain masa pajak terakhir. Pegawai tidak tetap juga dapat memiliki mekanisme tarif efektif harian atau bulanan sesuai pola penghasilannya.
Sementara itu, untuk kategori bukan pegawai, mekanisme penghitungan berbeda. Pada prinsipnya, PPh 21 bukan pegawai dihitung menggunakan tarif Pasal 17 terhadap dasar pemotongan tertentu sesuai ketentuan yang berlaku.
Karena itu, status penerima penghasilan perlu ditentukan terlebih dahulu sebelum memilih rumus PPh 21.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Menghitung PPh 21
Meskipun TER menyederhanakan perhitungan bulanan, kesalahan masih dapat terjadi apabila data payroll dan perpajakan tidak dikelola dengan baik.
1. Salah Menentukan Status PTKP
Status PTKP menentukan kategori TER. Kesalahan memasukkan status perkawinan atau jumlah tanggungan dapat menyebabkan tarif yang digunakan tidak sesuai.
2. Menganggap Tarif TER Sama Setiap Bulan
TER mengikuti jumlah penghasilan bruto pada bulan bersangkutan. Ketika terdapat bonus, THR, atau perubahan penghasilan, lapisan tarif efektif yang digunakan juga dapat berubah.
3. Tetap Menggunakan TER pada Masa Pajak Terakhir
Pada masa pajak terakhir, perusahaan perlu melakukan penghitungan kembali menggunakan tarif Pasal 17 dan memperhitungkan PPh 21 yang telah dipotong sebelumnya.
4. Tidak Memasukkan Komponen Penghasilan Tertentu
Bonus, tunjangan, insentif, maupun komponen lainnya dapat menjadi bagian dari penghasilan bruto yang harus diperhitungkan.
5. Tidak Melakukan Rekonsiliasi Payroll dan Pajak
Data penghasilan dalam payroll, bukti potong, pembukuan, dan pelaporan pajak sebaiknya konsisten. Perbedaan data dapat menjadi masalah ketika perusahaan melakukan rekonsiliasi atau pemeriksaan kembali atas kewajiban pajaknya.
Kenapa Perhitungan PPh 21 Penting Dipahami?
PPh 21 bukan hanya persoalan menentukan berapa rupiah pajak yang harus dipotong dari penghasilan karyawan.
Pemahaman mengenai PPh 21 juga penting bagi praktisi pajak, staf finance, HR, payroll, pemilik bisnis, maupun siapa saja yang ingin memahami administrasi perpajakan perusahaan dengan lebih baik.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
- data pegawai selalu diperbarui;
- status PTKP telah sesuai;
- seluruh komponen penghasilan teridentifikasi;
- kategori dan tarif TER digunakan dengan benar;
- penghitungan masa pajak terakhir dilakukan secara tepat;
- bukti potong dibuat berdasarkan data yang sesuai; dan
- pemotongan, penyetoran, serta pelaporan dilakukan sesuai ketentuan.
Dengan memahami alur tersebut, perubahan nominal PPh 21 pada bulan tertentu seperti ketika terdapat THR, bonus, atau penghitungan akhir tahun juga menjadi lebih mudah dipahami.
Cara Hitung PPh 21 Perlu Dilihat Secara Tahunan
Penerapan TER memang membuat perhitungan PPh 21 pada sebagian besar masa pajak lebih sederhana. Penghasilan bruto cukup dikalikan dengan tarif efektif sesuai kategori dan lapisan yang berlaku.
Namun, memahami cara hitung PPh 21 tidak berhenti pada penghitungan TER bulanan.
Status PTKP, variasi penghasilan, pembayaran THR atau bonus, serta rekonsiliasi pada masa pajak terakhir tetap menjadi bagian penting dalam menentukan PPh 21 secara tepat.
Karena itu, pemahaman mengenai mekanisme PPh 21 tidak hanya membantu dalam melakukan perhitungan, tetapi juga memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai proses pemotongan pajak atas penghasilan karyawan.
FAQ tentang Cara Hitung PPh 21
Apa rumus cara hitung PPh 21 dengan TER?
Untuk pegawai tetap pada masa pajak selain masa pajak terakhir, rumus sederhananya adalah penghasilan bruto bulanan dikalikan Tarif Efektif Bulanan sesuai kategori PTKP dan lapisan penghasilannya.
Apakah TER digunakan sampai Desember?
Tidak selalu. Jika Desember merupakan masa pajak terakhir pegawai, PPh 21 dihitung kembali menggunakan tarif Pasal 17 berdasarkan penghasilan selama satu tahun kemudian dikurangi PPh 21 yang sudah dipotong pada masa sebelumnya.
Apa perbedaan TER A, B, dan C?
Perbedaannya terletak pada kelompok status PTKP. TER A digunakan untuk TK/0, TK/1, dan K/0. TER B digunakan untuk TK/2, TK/3, K/1, dan K/2. Sementara TER C digunakan untuk K/3.
Apakah THR dan bonus dikenakan PPh 21?
THR dan bonus pada umumnya menjadi bagian dari penghasilan yang diperhitungkan dalam PPh 21. Pada bulan pembayaran, nilainya digabung dengan penghasilan bruto lainnya sehingga dapat memengaruhi lapisan TER yang digunakan.
Kenapa potongan PPh 21 Desember bisa lebih besar?
Karena pada masa pajak terakhir dilakukan penghitungan pajak tahunan yang sebenarnya terutang dan dikurangi dengan PPh 21 yang telah dipotong sebelumnya. Hasil penghitungan kembali tersebut dapat menyebabkan potongan masa terakhir lebih besar atau lebih kecil dibandingkan bulan sebelumnya.
Apakah semua pegawai menggunakan tarif TER yang sama?
Tidak. Tarif TER dipengaruhi oleh kategori PTKP dan besarnya penghasilan bruto pada masa pajak bersangkutan. Karena itu, dua pegawai dengan penghasilan atau status PTKP yang berbeda dapat memiliki tarif efektif yang berbeda.
Pelajari PPh 21 dan Perpajakan Lebih Dalam Bersama Tax Academy
Memahami PPh 21 menjadi salah satu dasar penting bagi kamu yang ingin bekerja di bidang pajak, finance, accounting, HR, maupun menangani administrasi perpajakan perusahaan.
Selain memahami cara hitung PPh 21, kamu juga perlu memahami berbagai jenis Pajak Penghasilan, PPN, ketentuan umum perpajakan, hingga proses pelaporan pajak secara menyeluruh.
Tax Academy menyediakan Kelas Brevet Pajak AB & C yang dirancang oleh tim profesional dengan materi sesuai kurikulum USKP dan peraturan pajak terbaru. Daftar kelasnya sekarang di sini!
Eksplor insight lain seputar perpajakan dan Brevet dengan mengunjungi Instagram Tax Academy atau laman blog Tax Academy dan nantikan update lainnya.
Catatan: Artikel ini bersifat edukatif. Perhitungan dan perlakuan PPh 21 dapat berbeda sesuai jenis penerima penghasilan, komponen penghasilan, status PTKP, masa kerja, serta ketentuan perpajakan yang berlaku.



